Categories
Uncategorized

Susu Kefir Mengandung Protein Tinggi

Berbagai cara dilakukan pembudidaya untuk mencegah kehadiran penyakit udang. Herman Wibisono, pemilik PT Laut Biru Lestari di Sumbawa, NTB menekankan persiapan tambak yang matang untuk mencegah WFD. Dulu persiapan tambak hanya 2 minggu, sekarang mencapai 3-4 minggu. Sehingga, plankton dan bakteri sudah benar-benar terbentuk sempurna dan air siap untuk budidaya. Selama proses budidaya, ia menggunakan teknologi bioflok-plankton.

Teknologi plankton murni memudahkan WFD menyerang, sedangkan teknologi bioflok menyulitkan dalam pengelolaan oksigen terlarut. Selain itu, Herman menerapkan padat tebar rendah sekitar 100-150 ekor/m2 dan manajemen pakan yang benar. “Kalau pakan berlebihan, sebentar saja muncul WFD. Kontrol pakan yang ketat sesuaikan dengan SR (survival rate),” katanya. Padat tebar rendah juga mencegah serangan myo. Agusri Syarif, petambak di Pesisir Barat Lampung dan Bengkulu melakukan sterilisasi areal tambak menggunakan disinfektan terhadap segala sesuatu yang memasuki tambak, seperti kendaraan teknisi, sales obat dan pakan, dan karyawan tambak. Ia menilai, kecil kemungkinan penyakit berasal dari perairan karena lokasi tersebut masih baru dan jauh dari kawasan tambak yang endemis penyakit. Sedangkan Sulaiman, petambak di Bintuhan, Bengkulu, membuat instalasi pengolahan limbah bertingkat.

Ia mencontoh instalasi milik perusahaan minuman ringan di Tanjung Bintang, Lampung Selatan. Menurut Anwar, petambak perlu menjaga jumlah vibrio di tubuh udang dan kolam budidaya menggunakan probiotik. Metode ini sangat efektif mengontrol vibrio sejak fase pembenihan. Selanjutnya agar hepatopankreas tetap sehat, gunakan bahan alami pelindung liver,”Kuncinya lindungi hepatopankreas, usus, dan lingkungan,” imbuhnya. Sedangkan Hery menganjurkan petambak menjaga imunitas udang dengan penggunaan produk alami berbahan baku mineral organik dan ekstrak ragi. Sebab, campuran bahan itu menjaga usus lebih sehat dan melindunginya dari serangan bakteri patogen.

Youghurt dan Kefir

Widodo, pembudidaya di Lampung Selatan, Lampung menggunakan yoghurt untuk mengendalikan WFD sejak 2015. Hasilnya cukup menggembirakan. Sedangkan Kuncoro, petambak di Pesawaran, Lampung menambahkan susu kefir dalam pakan untuk mengendalikan penyakit. Ia meyakini kefir akan lebih bagus hasilnya karena mengandung hampir 40 jenis bakteri, lebih banyak daripada yoghurt. Kuncoro memberikan 5 mm susu kefir/kg pakan sejak awal budidaya udang. Pada siklus pertama, ia panen pada umur 83 hari dan menghasilkan udang ukuran 49-55 ekor/kg dengan peluang hidup (SR) 83%-91% dan konversi pakan (feed conversion ratio, FCR) 1,41. Ia mengaku ada kenaikan SR, penurunan FCR, dan percepatan tumbuh udang dari periode sebelumnya.

Selain itu, bintik putih tanda serangan WFD pada hepatopankreas udang berangsur mengecil setelah aplikasi kefir selama 3 hari. Menurut pria berkumis ini, aplikasi pakan dengan kefir sesuai teori yang disampaikan Anan Chungjit, Master bidang Bioteknologi Pertanian dari Kasetsart University, Thailand. Anan menyarankan, udang yang terkena WFD dikurangi dosis pakannya tapi kadar proteinnya dinaikkan dengan menambah suplemen protein. Ia menaikkan protein pakan menggunakan susu kefir yang tinggi kandungan proteinnya. Padat tebar udang juga diturunkan menjadi 70 ekor/m2 .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *